Lepet, Makanan Tradisional Jawa

Lepet merupakan makanan tradisional Jawa yang terbuat dari beras ketan, parutan kelapa, dan garam. Menurut seorang budayawan Jepara, Bapak Drs. Hadi Priyanto, lepet telah ada sejak zaman kerajaan Hindu-Buddha sekitar abad ke-8. Namun, makna filosofis lepet baru ada sekitar abad ke-16 setelah masuknya ajaran Islam dan terjadinya akulturasi budaya. Sehingga lepet memiliki makna yang erat kaitannya dengan ajaran agama Islam, terutama pada perayaan Hari Raya Idul Fitri. Lepet berasal dari peribahasa Jawa, yaitu "silep kang rapet", berarti ditutup rapat-rapat. Pengertian ini dikaitkan dengan pengungkapan kesalahan dan permintaan maaf yang dilakukan saat Hari Raya Idul Fitri, yaitu kesalahan yang telah dilakukan dan dimaafkan tidak boleh diungkapkan kembali dan harus ditutup rapat-rapat.
Proses pembuatan lepet asal Jawa Tengah yang dilakukan oleh Carlins, Judella, Phailyn, dan Wendy dapat dilihat pada link video berikut ini.

Future of Food Feeding 7 Billion - Technology Update

Jumlah penduduk dunia pada tahun 2011 mencapai tujuh miliar jiwa. Pertambahan penduduk pada beberapa dekade mendatang kemungkinan akan mencapai 30 persen dari total penduduk pada tahun 2011. Peningkatan penduduk tentunya akan diikuti dengan peningkatan permintaan pangan. Pemenuhan pangan dunia harus meningkat dua kali lipat menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2050. Sedangkan lahan pertanian dan peternakan yang tersedia memiliki jumlah yang terbatas, sehingga sumber pangan juga terbatas. Karena itu, diperlukannya solusi dan suatu inovasi dalam pemenuhan kebutuhan pangan di masa depan. Inovasi tidak hanya mengatasi peningkatan jumlah produksi, namun juga mengatasi masalah sisa makanan yang lebih efektif sehingga dapat dikonsumsi kembali. Hal ini dikarenakan terdapat 222 miliar ton pangan terbuang di negara maju, yaitu sekitar satu per tiga dari jumlah total pangan.
Beberapa solusi dan inovasi guna mengatasi kedua permasalahan tersebut adalah tiruan daging (hamburger) dengan limbah kotoran dan belatung, serta pembuatan tiruan telur ikan (kaviar) dengan gelling agent, ikan, dan cokelat.

  1. Daging hamburger dari limbah kotoran
    • Penelitian di Jepang oleh Profesor Mitsuki Ikeda.
    • Daging hamburger berasal dari senyawa hasil ekstrak bakteri pada limbah kotoran (sewage waste)
    • Kadar protein daging hamburger ini 63% (lebih tinggi dibandingkan hamburger biasa), namun memiliki penampakan yang tidak menarik.
  2. Daging hamburger dari belatung
    • Menggunakan serangga yang paling umum ditemukan, yaitu lalat rumah. Lalat betina dikembangbiakkan secara rutin sehingga akan diperoleh telur-telur yang akan berkembang menjadi belatung.
    • Belatung yang telah dipisahkan dari substrat (tempat tumbuh) dan dibersihkan, telah siap digunakan sebagai pakan ternak atau sumber protein. Kadar proteinnya mencapai 56% dan kadar lemak 12-20%.
    • Belatung untuk daging hamburger dicincang terlebih dahulu, kemudian ditambahkan roti, susu, telur, bawang, garam dan merica. Sehingga akan diperoleh konsistensi seperti daging cincang, kemudian adonan dibentuk dan dimasak.
  3. Kaviar dengan gelling agent 
    • Dibuat dari gelatin/rumput laut (gelling agent), perisa dan pewarna makanan, serta tambahan protein apabila perlu.
    • Semua bahan dicampurkan pada suhu 50-60oC dengan tekanan 1-2 atmosfir. Kemudian disemprotkan pada minyak 10oC sehingga terbentuk butiran-butiran menyerupai kaviar.
  4. Kaviar dengan ekstrak ikan
    • Dibuat dari ekstrak ikan dan rumput laut.
    • Kaviar dibentuk dengan adanya larutan campuran yang masih berwujud cair di bagian dalam butiran-butiran kaviar. Sehingga ketika digigit (pecah) akan menyebabkan cairan tersebut keluar.
  5. Kaviar dengan cokelat
    • Dibuat dari cokelat manis dengan sistem yang menyerupai sistem pembuatan kaviar buatan lainnya.
    • Pembuatan kaviar ini juga bertujuan untuk menjaga populasi ikan sturgeon yang mulai mengalami penyusutan 90% selama dua dekade ini. Sehingga telur-telur ikan masih dapat disimpan dan digunakan untuk proses pembuahan nantinya saat terdapat sperma yang siap. Hal ini dikarenakan jenis ikan sturgeon secara natural mampu memproduksi telur setelah berusia 15 tahun.

Kegiatan Table Manner

Senin, 19 November 2018 terdapat kegiatan table manner yang diselenggarakan Santika Hotel BSD Teraskota. Kegiatan tersebut diikuti oleh mahasiswa Teknologi Pangan Universitas Surya yang mengikuti mata kuliah Budaya Pangan dengan dosen pengampu Dr. Ir. Albert Kuhon, Ms. Pada kegiatan tersebut dijelaskan mengenai sejarah, tata cara, serta hidangan-hidangan pada jamuan makan formal secara umum oleh Bapak Indra selaku Manager Food & Beverage (disebutkan pada post sebelumnya). Pada kegiatan table manner tersebut disediakan hidangan dengan urutan sebagai berikut.
  1. Bread & Butter
    • Roti manis dan unsalted butter
  2. Hidangan pembuka (appetizer)
    • Chef Salad : Amechan salad consisting of hard boiled eggs, vegetable, and cheese
  3. Sup (soup)
    • Carrot Cream Soup : Carrot soup with parsley served with parmesan cheese
  4. Hidangan utama (main course)
    • Chicken Cordon Bleu : Chicken with mozzarella filling served with saute vegetable, potato and mushroom sauce
  5. Hidangan penutup (dessert)
    • Tiramisu : Tiramisu cake with chocolate sauce with vanilla ice cream sauce.
  6. Coffee & Tea


Table Manner

Table manner merupakan etika/tata cara makan saat jamuan makan bersama, baik acara berkumpul dengan keluarga maupun jamuan formal. Tata cara makan ini awal mulanya dilakukan oleh keluarga kerajaan dan para bangsawan pada jamuan makan yang sering diadakan oleh Kerajaan Perancis. Kemudian tata cara makan ini lama kelamaan juga diterapkan oleh masyarakat. Terdapat beberapa hal yang tidak boleh dilakukan pada saat makan bersama, seperti:
  1. Membuka napkin dan memulai makan sebelum tuan rumah memulainya.
  2. Menggunakan napkin selain untuk menyeka mulut.
  3. Menggunakan telepon genggam serta mengangkat telepon tanpa meminta izin dengan orang-orang yang duduk di samping kita.
  4. Berbicara saat masih terdapat makanan di dalam mulut.
  5. Mengeluarkan suara pada saat menggunakan peralatan makan.
  6. Berbicara dan tertawa dengan suara keras.
Pada saat jamuan makan formal, umumnya peralatan akan diatur di atas meja sesuai dengan hidangan yang akan disajikan. Penggunaan peralatan makan secara umum adalah dari bagian terluar secara berurutan hingga peralatan yang diposisikan di bagian terdalam. Penataan peralatan makan sesuai dengan gambar berikut.
  1. Napkin atau peralatan makan (piring/mangkuk)
  2. Piring dan pisau oles untuk bread & butter (B&B)
  3. Garpu untuk makan salad
  4. Pisau untuk makan salad
  5. Sendok untuk makan sup
  6. Garpu untuk makan hidangan utama
  7. Pisau untuk makan hidangan utama
  8. Sendok untuk makan hidangan penutup
  9. Garpu untuk makan hidangan penutup
  10. Gelas
Keterangan: peralatan digunakan sesuai dengan urutan nomor; sedangkan untuk peralatan no 8 dan 9 di turunkan menjadi di kanan dan kiri piring (posisis no 1) sebelum hidangan penutup disajikan oleh pramusaji.


Desain Ulang Fotosintesis untuk Mencapai Keberlanjutan Pangan Global

Populasi dunia selalu mengalami kenaikan, pada tahun 2050 diperkirakan populasi mencapai 9,6 miliar. Peningkatan populasi akan diikuti dengan peningkatan permintaan dan konsumsi pangan global. Terdapat 2 cara dalam meningkatkan hasil panen untuk mengimbangi peningkatan jumlah permintaan tersebut, yaitu dengan ekstensifikasi (perluasan lahan) dan intensifikasi (peningkatan produktivitas pada lahan yang telah tersedia). Intensifikasi lebih baik karena emisi gas rumah kaca dan gangguan ekosistem lebih dapat dihindari. Dalam mengatasi masalah dampak lingkungan terdapat ide baru yang masih dalam proses penelitian dan perkembangan, yaitu melakukan desain ulang fotosintesis.
Desain ulang fotosintesis dilakukan dengan rekayasa genetika, penyisipan gen, sehingga proses fotosistensis dapat berjalan dengan lebih efisien. Rekayasa genetika tersebut bertujuan untuk:

  1. Mengurangi jumlah light-harvesting pigment
    • Pengurangan pigmen (klorofil dan karotenoid) dapat mengefisienkan jumlah cahaya yang diserap sehingga sesuai dengan kebutuhan untuk produksi.
    • Karena apabila terjadi penyerapan cahaya yang berlebihan dapat menyebabkan fotooksidasi yang merusak daun.
    • Penerapan sistem ini telah sukses pada alga dan cyanobacteria
  2. Mengganti fotosistem yang bertugas melakukan konversi energi cahaya
    • Secara alami, terdapat fotosistem I (PSI) dan fotosistem II (PSII) yang berfungsi untuk mengubah energi cahaya menjadi energi yang diiperlukan pada proses metabolisme siklus Krebs.
    • PSI dan klorofil a dalam PSII diganti oleh bakterioklorofil b dan klrofil d. Penggantian ini berfungsi agar proses konversi cahaya dapat berjalan bersamaan sehingga lebih efisien dalam menghasilkan energi metabolisme. Karena pada sistem PSI dan PSII, konversi cahaya dilakukan bertahap, yaitu hasil PSI merupakan "bahan" bagi PSII.
  3. Penangkapan dan Konversi Karbon
    • Meningkatkan serapan karbon: memberikan saluran karbon dioksida dan transporter bikarbonat ke sel fotosintetik tanaman sehingga mengurangi jumlah kebutuhan Rubisco dan meningkatkan efisiensi penggunaan nitrogen. Konsentrasi karboon dioksida yang lebih rendah pada antar sel akibat laju fotosintesis yang meningkat sehingga stomata lebih sedikit terbuka dan efisiensi penggunaan air meningkat.
    • Meningkatkan konversi karbon: penggantian tanaman C4 menjadi tanaman C3 yang lebih efisien dalam konversi karbon
  4. Smart Canopy
    • Interaksi kooperatif tanaman untuk memaksimalkan penerimaan cahaya dan produksi biomassa per satuan luas tanah.
    • Memastikan agar jumlah cahaya yang dapat diterima oleh daun pada posisi paling bawah sekalipun sama dengan daun yang posisinya paling atas.

Perspektif dalam Ketahanan Pangan yang Berkelanjutan

Ketahanan pangan adalah tersedianya pangan dan kemampuan seseorang dalam mengkases pangan tersebut. Pada saat ini, masalah pangan sudah menjadi masalah global yang perlu diperhatikan. Adanya ketidakseimbangan menyebabkan ketahanan pangan tidak dapat tercapai, contohnya ada penderita obesitas dan malnutrisi pada suatu daerah yang sama. Terdapat 3 perspektif untuk mencapai ketahanan pangan yang berkelanjutan.

  1. Perspektif efisiensi
    • Pada perspektif ini dinyatakan bahwa diperlukannya peningkatan efisiensi produksi sehingga jumlah produk yang dihasilkan lebih banyak namun menggunakan lahan yang sama dan menghasilkan jumlah emisi gas rumah kaca yang tetap.
    • Intensifikasi dapat dilakukan dengan menggunakan bibit-bibit unggul sehingga dapat memberikan hasil produk lebih tinggi dengan luas lahan yang sama
    • Penerapan perspektif ini dapat menyebabkan rebound effect. Peningkatan efisiensi produksi dapat membuat perusahaan/petani meningkatkan keuntungan sehingga mereka membuka lahan baru lagi. Hal ini justru akan menyebabkan semakin banyak lahan yang digunakan (adanya pembukaan lahan) dan menimbulkan dampak lingkungan yang baru.
  2. Perspektif menahan permintaan (demand restraint)
    • Pada perspektif ini dinyatakan bahwa pembatasan permintaan dapat membatasi proses produksi sehingga jumlah produk yang dihasilkan cukup untuk memenuhi kebutuhan tanpa berlebihan.
    • Namun tidak dinyatakan dengan jelas bagaimana permintaan konsumen masih dalam batas "cukup" sehingga penerapannya masih memerlukan pemahaman dan tinjauan lebih jauh lagi.
  3. Perspektif transformasi sistem pangan
    • Pada perspektif ini, produksi dan konsumsi dipandang sebagai satu kesatuan yang membentuk suatu sistem pangan. Apabila terjadi ketidakseimbangan pada sistem pangan tersebut, maka akan terjadi ketidakseimbangan pada sektor lain juga contohnya sektor kesehatan (obesitas dan malnutrisi)
    • Ketahanan pangan tidak lagi hanya dipandang dari dimensi supply (pasokan), namun dari dimensi lainnya juga, yaitu aksesibilitas, keterjangkauan (affordability), pemanfaatan (utility), dan stabilitas.
    • Dimana masalah sosial ekonomi menjadi fokus perhatian utama pada perspektif ini. Semua masyarakat (sosial ekonomi manapun) dapat mencapai ketahanan pangan.

Kontribusi "Petani Kecil" pada Produksi Pangan Global

Pada tahun 2050, populasi diperkirakan mencapai 9,1 milyar, sehingga diperlukan juga peningkatan produksi pangan untuk memenuhi kebutuhan. Tercatat bahwa pertanian kecil (rerata luas lahan kurang dari 2 hektar) telah berkontribusi terhadap 70% total pemenuhan kalori di dunia. Namun, para petani kecil justru mengalami kemiskinan, buruknya keamanan pangan, serta adanya keterbatasan akses ke pasar.

Sebenarnya indikator suatu pertanian dinyatakan kecil di beberapa negara berbeda-beda, namun pada penelitian yang dilakukan Samberg, dkk. (2016), pertanian kecil ditunjukkan dengan indikator luas lahan kurang dari 5 hektar. Berdasarkan hasil pemetaan pada penelitian tersebut, terdapat sekitar 28% lahan pertanian di 83 negara yang dibudidayakan oleh 383 juta ruah tangga. Peran unit pertanian kecil pada pangan global ini sangatlah besar. Pertanian kecil menyumbang > 80% produksi beras global; 75% produksi kacang tanah dan kelapa sawit global; hampir 70% produksi millet dan ubi kayu global; dan lebih dari 40% produksi kapas dan tebu global. Bahkan tercatat bahwa pertanian kecil di 83 negara berkontribusi dalam 70% dari total produksi kalori global dan 53% konsumsi kalori global.
Meski perannya yang besar untuk pangan global, kehidupan para petani dapat dikatakan tidak sejahtera. Salah satu penyebabnya adalah kurang maksimalnya atau bahkan tidak tersedianya akses dari pertanian ke pasar untuk menjual hasil pertanian. Padahal sektor pertanian skala kecil dapat mengurangi kemiskinan, yaitu meningkatkan pendapatan petani, menciptakan lapangan pekerjaan, dan menurunkan harga bahan pangan di pasar. Karena itu diperlukannya tindakan dan kebijakan yang mendukung serta meningkatkan pertanian kecil. Pada tahun 2013, The High Level Panel of Experts on Food Security and Nutrition di bawah naungan FAO menerbitkan "Investing in Smallholder Agriculture for Food Security". Berbagai bentuk investasi merupakan salah satu faktor yang berperan penting guna meningkatkan produktivitas dan mengatasi masalah kelangkaan lahan.

Sumber:
Samberg, L.H., Gerber, J.S., Ramankutty, N., Herrero, M., dan West, P.C. 2016. Subnational Distribution of Average Farm Size and Smallholder Contributions to Global Food Production. Environmental Research Letters, 11 (12).

Luncbox

Orang dewasa maupun anak-anak dapat membaka bekal makan siang mereka. Hal ini dapat mengurangi pengeluaran yang dilakukan sehingga dapat memiliki uang untuk disimpan yang lebih banyak. Di Amerika, masyarakat membawa bekal makan siang yang praktis dan mampu memberi rasa kenyang/menunda rasa lapar mereka. Beberapa jenis bahan pangan yang sering dijadikan bekal makan siang adalah roti, selai kacang, selai anggur, jus, baby carrot, goldfish crackers, serta twinkies.

Roti yang biasa dibawa sebagai bekal adalah roti tawar dengan selai kacang dan/atau selai anggur. Salah satu merek roti tawar yang telah dikenal masyarakat Amerika sejak lama adalah Wonder Bread. Roti tawar tersebut dibuat dari tepung terigu, ragi, beberapa jenis bahan tambahan pangan, dan larutan gula 5% yang memberikan aroma manis khas. Roti tersebut biasanya dimakan bersama dengan selai kacang (peanut butter) atau selai anggur. Peanut butter yang diminati oleh 40% warga Amerika adalah selai kacang yang terdapat potongan kacangnya (crunchy). Salah satu peanut butter yang terkenal di Amerika adalah Sunland Inc. Selai anggur dibuat dari jus anggur, pektin, dan tambahan lainnya sehingga akan terbentuk tekstur selai yang baik. Salah satu merek selai anggur yang diminati adalah selai anggur produksi dari perkebunan anggur Welch's di timur laut Pennsylvania.

Minuman yang sering dibawa bersama dengan bekal makan siang adalah jus. Jus yang dibawa merupakan jus yang dikemas pada kemasan Tetra Pak yang memberikan kepraktisan bagi para konsumen. Jus yang paling populer dari Juicy Juice Bottling Plant adalah jus apel dengan kapasitas produksi 8.000 gallon per hari. Jus dalam kotak Tetra Pak menjadi pilihan banyak masyarakat karena kemasan yang aman menjaga kualitas produk.

Selain makanan dan minuman, masyarakat Amerika juga sering membawa snack sebagai salah satu bekal, contohnya baby carrot, goldfish crackers, dan twinkies. Baby carrot merupakan wortel dengan bentuk kurang baik yang telah dibersihkan, dipotong, dan dikemas sehingga aman dan dapat langsung dikonsumsi. Produsen wortel terbesar di Amerika adalah Bolthouse Farm, di Bakersfield, California yang juga menjadi pemasok 90% konsumsi wortel di Amerika. Goldfish crackers merupakan salah satu makanan ringan favorit yang diproduksi oleh Pepperidge Farm. Makanan ringan ini tidak terbbuat dari bahan laut, namun terbuat dari tepung terigu, garam, gula, air, ragi, serta bumbu-bumbu yang dicetak membentuk ikan. Twinkies adalah makanan penutup yang mirip seperti cakes dengan isian krim vanila. makanan ini sudah diproduksi di Amerika sejak 1933 dan diikutsertakan sebagai simbol negara pada tahun 1999.

Strengthening of Accountability Systems to Create Healthy Food Environments & Reduce Global Obesity

Pada zaman sekarang terjadi pergeseran kebiasaan makan seseorang dari pangan sehat dan segar menjadi pangan olahan yang praktis. Pangan olahan yang ada saat ini umumnya adalah pangan olahan yang tidak memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari, namun hanya memenuhi jumlah kalori atau bahkan melebihi kebutuhan kalori dalam sehari. Hal ini menyebabkan semakin meningkatnya orang yang kelebihan berar badan atau obesitas.
Permasalahan yang sedang terjadi adalah pemerintah tidak memiliki akuntabilitas yang kuat dan cukup untuk mengatur pola makan masyarakatnya. Hal ini dikarenakan pasar dikuasai oleh perusahaan-perusahaan multinasional dan swasta yang menjual pangan olahan tidak bergizi. Akuntabilitas adalah kemampuan dalam memberikan penjelasan terhadap tindakan-tindakan yang dilakukan terutama kepada pihak yang diberi kewenangan untuk melakukan penilaian dan evaluasi. Kerangka kerja akuntabilitas adalah sebagai berikut.
  1. Take the account
    • Tahap pengukuran berkala yang dilakukan untuk memastikan proses tetap stabil dan berjalan dengan baik. Pada permasalahan obesitas ini dilakukan pemantauan indeks massa tubuh (IMT) secara reguler terutama pada anak-anak yang memiliki tingkat perubahan paling cepat. Hal ini dikarenakan IMT tinggi menjadi faktor yang berkontribusi terhadap beban beberapa penyakit secara cepat. 
    • Contohnya WHO Europe Child Obesity Surveillance Initiative yang melibatkan 19 negara peserta dengan lebih dari 170.000 anakk di Eropa pada tahun 2011-2012, berupaya dalam meningkatkan pemantauan rutin terhadap status berat badan anak-anak.
  2. Share the account
    • Tahap dalam memberikan informasi dan data yang didapatkan kepada para pemangku kepentingan dan harus dapat diakses oleh publik. Informasi dan data harus diberikan berdasarkan fakta, menyeluruh secara transparansi.
  3. Hold the account
    • Tahap ini merupakan pemberikan insentif dan sanksi bagi para pelaku yang terkait. Insentif diberikan kepada pihak yang telah berpartisipasi dan memberikan dampak positif terhadap tujuan. Sedangkan pemerintah dapat memberikan sanksi apabila terdapat pihak yang tidak bertanggung jawab dan menyebabkan kerusakan, termasuk membahayakan keamanan pangan dan gizi.
  4. Respond to the account
    • Tahap evaluasi agar sistem akuntabilitas dapat diperbaiki dan semakin baik performanya dalam mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Pemerintah melalui mekanisme hukum, meminta pertanggungjawaban sektor swasta sehingga dapat secara konsisten dalam meningkatkan kesehatan masyarakat. Hal ini dikarenakan suatu kebijakan yang tidak didukung dengan hukum rentan untuk tidak dilaksanakan/diterapkan.
Sumber : 
Swinburn, B., dkk. 2015. Strengthening of accountability systems to create healthy food environments and reduce global obesity. The Lancet: Obesity Series, 385 (9986), 2534-2545. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(14)61747-5 

Gluten Free

Gluten adalah suatu protein yang terdiri dari glutenin dan gliadin. Gluten memiliki sifat elastis yang dapat membentuk tekstur kenyal dan kokoh pada makanan. Protein ini banyak ditemukan pada produk serealia, seperti gandum. Apabila sistem imun seseorang memiliki reaksi yang tidak normal terhadap gluten, maka dapat menyebabkan gangguan pencernaan dan gangguan emosional. Seseorang yang mengalami gangguan kesehatan seperti ini biasanya menderita celiac disease.

Kanada merupakan salah satu negara yang memiliki tren konsumsi gluten free yang cukup tinggi. Nyatanya, hanya sekitar 35.000 orang yang tercatat menderita celiac disease, namun terdapat hingga 4 juta orang yang melakukan pola diet gluten free. Hal ini sebenernya dikarenakan 2 hal, yaitu konsumen tidak mengetahui gluten dan pemanfaatan terkait gluten oleh marketer produk gluten free. 
Dari survei yang dilakukan pada beberapa orang di sebuah supermarket, masyarakat Kanada tidak mengetahui apa itu sebenarnya gluten. Pada beberapa orang, gluten dianggap sebagai suatu kandungan yang dapat memberikan dampak negatif bagi tubuh, seperti membuat seseorang menjadi gendut. Bahkan gluten disama-artikan dengan lemak dan kalori yang dianggap negatif oleh masyarakat. 
Produsen memanfaatkan sifat manusia yang tertarik pada produk-produk yang memberikan kesan "magic" seperti makanan yang dapat menjajikan tubuh kurus dibandingkan dengan produk yang memberikan pesan sederhana seperti "olahraga dan makan-makanan bergizi agar tubuh sehat". Dengan memanfaatkan sifat manusia tersebut, maka produsen produk gluten free melakukan promosi akan produk mereka dengan klaim-klaim kesehatan. Produk gluten free dijual dengan klaim bahwa produk yang lebih sehat dibandingkan dengan produk non gluten free, dapat memberikan rasa bahagia dan energi. Bahkan untuk menarik perhatian para orang tua, para produsen memanfaatkan rasa kekhawatiran mereka terhadap perkembangan anak-anaknya dengan mengatakan bahwa produk gluten free dapat meminimalkan/mengurang gejala-gejala pada autisme dan ADHD (attention deficit hyperactivity disorder). Autisme memang sering dikaitkan dengan produk gluten free karena umumnya para penderita autisme menderita celiac disease. Padahal sebenarnya tidak terdapat bukti-bukti ilmiah hingga saat ini yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara produk gluten free dengan efek-efek tersebut (lebih sehat, meningkatkan energi, memberi rasa bahagia, menurunkan berat badan, meringankan gejala autisme, dan sebagainya).
Bahkan, apabila dibandingkan nilai nutrisi dari suatu roti tawar putih biasa dengan roti tawar gluten free, produk gluten free memiliki nutrisi yang lebih buruk. Roti tawar gluten free mengandung kalori, natrium, lemak dan gula yang lebih banyak 13%, 33%, 204%, 53% dan mengandung serat yang lebih rendah 26% dari roti tawar putih. Bahkan serat roti tawar gluten free 62% lebih rendah dibandingkan roti gandum utuh.

Sumber:

Lepet, Makanan Tradisional Jawa

Lepet merupakan makanan tradisional Jawa yang terbuat dari beras ketan, parutan kelapa, dan garam. Menurut seorang budayawan Jepara, Bapak ...