Kedaulatan Bibit

Kedaulatan bibit adalah suatu kedaulatan yang gerakannya dipelopori oleh para wanita di berbagai daerah di dunia. Vandana Shiva merupakan seorang wanita yang menjadi pelopor gerakan kedaulatan bibit di India, yaitu organisasi non-pemerintah, Navdanya. Berdirinya organisasi dan gerakan ini diawali dengan adanya hal-hal yang mendorong. Salah satunya adalah adanya monopoli dan monokultur pada pertanian di India. Pada tahun 1960-an para petani di India dipaksa untuk menggunakan bahan-bahan kimia dalam kegiatan pertaniannya. Bahan kimia ini dikenalkan pada para petani di India dengan istilah "Revolusi Hijau" yang menjadikan India pada masa itu mendapatkan julukan "Ibukota Pestisida Dunia". Pemaksaaan ini menyebabkan para petani memiliki hutang dan masalah kesehatan (terserang penyakit) yang lama-kelamaan menyebabkan para petani bunuh diri. Selain itu, pada Desember 1984 terjadi tragedi Bhopal, yaitu adanya insiden kebocoran gas pestisida yang menyebabkan sekitar 500.000 orang menghirup gas methyl isocyanate (MIL) yang merupakan gas toksik. Kejadian ini diestimasi menyebabkan sekitar 8.000 orang meninggal selama 2 minggu setelah kejadian kebocoran gas tersebut dan efek-efek negatif pada kesehatan masyarakat sekitar. Berdasarkan tragedi-tragedi tersebut, Vandana Shiva mendirikan organisasi Navdanya dengan tujuan untuk melestarikan keanekaragaman hayati dan mendukung petani secara ekonomi. Salah satu kegiatan yang dilakukan organisasi ini dalam mendukung kedaulatan bibit adalah adanya "Bank Benih/Bibit". Bank benih ini bertujuan untuk membantu para petani agar dapat memiliki benih yang baik untuk meningkatkan kesejahteraan mereka dalam rangka untuk mengatasi adanya monopoli penjualan benih yang dulu dilakukan di India. Karena monopoli penjualan benih dapat menyebabkan hilangnya biodiversitas dan menyebabkan hilangnya beberapa jenis/varietas asli pada daerah tersebut, selain itu monopoli benih dapat menyebabkan para petani berhutang dalam membeli benih sehingga memiliki tekanan/stress. Pada saat ini, Navdanya melalui Bank benih telah menghasilkan 5.000 varietas beras, gandum, kacang, milet, sayuran dan tanaman obat yang dilestarikan serta telah meningkatkan ketahanan pangan.

Vandana Shiva juga telah menuliskan buku dengan judul "Seed Sovereignty, Food Security: Women in the Vanguard of the Fight Against GMOs and Corporate Agriculture" yang membahas mengenai kedaulatan bibit dan keamanan pangan.

The Village Hub (by Willie Smits and Masarang Foundation)

Sulawesi, Indonesia merupakan daerah yang 1/3 penduduknya masih tidak memiliki pekerjaan dan masih terdapat daerah-daerah yang tidak memiliki listrik pada tahun 2013 yang lalu. Namun Sulawesi memiliki sumber alam yang berlimpah yang mampu mendukung kebutuhan hidup masyarakatnya. Salah satu contoh tanaman yang berlimpah adalah pohon kelapa (Arenga pinnata). 
Pohon kelapa (aren) ini banyak tumbuh di hutan tanpa memerlukan pupuk ataupun pestisida dan memproduksi nira aren sepanjang tahun. Di Sulawesi, contohnya Sulawesi Utara, pohon kelapa ini diambil niranya secara tradisional oleh masyarakat untuk diolah menjadi minuman beralkohol, saguer. Selain diolah menjadi saguer, sebagian kecil nira aren ini diolah menjadi gula aren. Namun, masyarakat lebih sering mengolah nira aren menjadi saguer. Hal ini dikarenakan proses pembuatan gula aren yang susah, yaitu nira aren harus langsung dipanaskan setelah dipanen dengan menggunakan tungku kayu bakar hingga menjadi. Asap dari proses pemanasan ini menyebabkan mereka terganggu (sakit) dan hasil gula aren yang didapatkan tidaklah banyak.
Melihat kenyataan ini, Willie Smits, seorang peneliti lingkungan yang berpengalaman selama 30 tahun dalam hutan tropis, mendirikan sistem village hub bersama dengan Masarang Foundation. Sistem village hub merupakan suatu projek yang mengajak masyarakat untuk memanfaatkan potensi nira aren dengan maksimal. Hal ini mengubah kebudayaan masyarakat yang awalnya lebih sering mabuk-mabukan karena nira aren lebih sering digunakan untuk produksi saguer menjadi masyarakat yang produktif dan memiliki peningkatan perekonomian.
Willie Smits bersama dengan Masarang Foundation, membangun sebuah pabrik kecil (village hub) yang memproduksi sirup aren dan bio-etanol yang dilakukan dengan sistem zero waste production. 
Proses produksi diawali dengan panen nira dari hutan-hutan. Nira tersebut kemudian akan ditimbang dan dipanaskan hingga konsentrasi gulanya meningkat dari 10-17% menjadi 20% pada tempat pemanasan yang didirikan dekat dengan lokasi hutan sekitar. Setelah konsentrasi menjadi 20%, nira akan dibawa ke pusat pabrik kecil untuk proses pengolahan.
Pembuatan bio-etanol menggunakan nira tersebut yang ditambahkan ragi (yeast) dan dimasukkan dalam fermentor. Bio-etanol memiliki berbagai fungsi yang dapat membantu kehidupan masyarakat sekitar, seperti untuk penerangan, bahan bakar kendaraan bermotor, dan memasak. Selama proses fermentasi, gas karbondioksida (CO2) juga dihasilkan. Gas ini akan dialirkan menuju kolam algae untuk proses metabolismenya. Algae ini kemudian akan digunakan untuk pakan ternak karena kandungan proteinnya yang tinggi. Kemudian untuk kotoran hewan ternak, dapat ditampung pada biogas installation untuk menghasilkan gas metana. Gas metana ini akan digunakan sebagai bahan bakar untuk proses distilasi etanol dengan adanya bantuan dari pembakaran kayu apabila diperlukan. Sedangkan slurry dari proses biogas tersebut akan dimanfaatkan sebagai pupuk untuk kolam algae dan sawah.
Pembuatan gula aren menggunakan nira aren dengan konsentrasi 20% tersebut yang akan dievaporasi hingga menjadi sirup aren. Sirup aren ini memiliki konsentrasi gula 67%. Pada proses evaporasi memanfaatkan uap panas yang dihasilkan selama pemanasan sehingga mempercepat proses evaporasi. Uap panas ini nantinya akan terkondensasi menjadi air yang kemudian ditampung dan difiltrasi sehingga dapat menjadi air bersih (air minum). Sirup aren ini kemudian akan diolah oleh pabrik Masarang hingga menjadi gula aren yang siap untuk dipasarkan.
Selain itu, masih terdapat pula pemanfaatan uap hasil pembakaran kayu yang digunakan untuk mengeringkan kayu dan menjalankan generator untuk membantu memberikan sumber listrik pada beberapa keluarga. Selain itu, arang yang dihasilkan dimanfaatkan untuk proses filtrasi air minum hasil kondensasi.

Sumber:

Lepet

Lepet adalah salah satu olahan beras/ketan tradisional di Indonesia. Lepet pada dasarnya dibuat dari ketan yang telah direndam semalaman, kelapa parut, dan garam. Lepet merupakan makanan gurih yang memiliki nilai-nilai budaya. Lepet memiliki makna sebagai bentuk permohonan maaf pada seseorang. Makanan khas ini sering terdapat pada beberapa ritual/adat tradisional yang telah dilakukan para masyarakat, khususnya Jawa. Contohnya pada ritual Sedekah Laut di Jepara dan pada saat 1 minggu setelah Hari Lebaran umat muslim. Lepet  termasuk makanan tradisional yang masih belum banyak dibahas mengenai sejarah dan kebudayaannya, kerana itu cara untuk mengetahui sejarah dan budaya pangannya perlu dilakukan penelitian melalui buku-buku serta wawancara pada pihak-pihak yang berkaitan dan berkompeten. Pada 7 September 2018, saya dan Judella (teman saya) berkesempatan untuk menambah pengetahuan mengenai budaya dan adat terkait pangan "Lepet" dengan melakukan wawancara dengan Bapak Dr. Hadi Priyanto, M.M. di Jepara, Jawa Tengah.

Kebiasaan dalam Makan

Kebiasaan seseorang dalam makan berbeda-beda. Banyak sekali faktor-faktor yang mempengaruhi kebiasaan/pola makan tersebut. Berikut merupakan beberapa faktor yang mempengaruhi pola makan seseorang.
  1. Agama
    • Faktor ini sangat jelas mempengaruhi pola makan seseorang. Agama/kepercayaan seseorang mengajarkan hal-hal yang baik untuk dilakukan ataupun tidak dilakukan. 
    • Contohnya penganut agama Islam tidak diperbolehkan mengonsumsi daging babi karena tidak halal, penganut agama Buddha yang sangat mendalami ajaran akan menjadi seorang vegetarian, penganut agama Hindu tidak mengonsumsi daging sapi, dan sebagainya.
  2. Ekonomi
    • Faktor mempengaruhi pola makan seseorang karena ekonomi dapat menentukan jenis/bahan pangan yang dapat dikonsumsi untuk kesehariannya. Faktor ekonomi ini juga meliputi faktor kesejahteraan seseorang tersebut.
  3. Suku/bangsa
    • Contohnya masyarakat Jepang apabila mengonsumsi mi harus menimbulkan suara sebagai tanda bahwa mi tersebut enak dan bentuk menghargai orang yang memasaknya, namun pada masyarakat negara lain menimbulkan suara saat makan mi akan terkesan tidak sopan dan tidak memiliki etika yang baik.
  4. Lingkungan/keluarga
    • Contohnya pola makan orang Padang akan berbeda dengan pola makan orang Jawa
  5. Geografis
    • Contohnya orang yang tinggal di daerah pesisir pantai akan lebih sering dan suka makan seafood, sedangkan orang yang tinggal di daerah berburu akan lebih suka makan daging.
  6. Kebutuhan khusus
    • Kebutuhan khusus yang dimaksud lebih mengarah pada pengaruh kesehatan seseorang.
    • Contohnya seorang atlet memiliki kebutuhan pola makan yang berbeda dengan orang pada umumnya, ataupun adanya alergi pada makanan/senyawa tertentu yang menyebabkan pola makan seseorang terpengaruhi.
  7. Pendidikan
    • Semakin tinggi pendidikan seseorang akan menyebabkan semakin selektif seseorang dalam memilih makanannya. Hal ini akan menyebabkan terjadi perubahaan kebiasaan makan dan membentuk kebiasaan makan yang baru.
  8. Usia
    • Usia tentu menentukan jenis dan jumlah makanan yang dapat dikonsumsi, seorang bayi 0-6 bulan tentu hanya dapat mengonsumsi ASI/susu formula, sedangkan seorang remaja memiliki kebiasaan makan untuk memenuhi kebutuhan aktivitasnya yang padat.
  9. Teknologi
    • Perkembangan teknologi menyebabkan adanya berbagai jenis olahan pangan baru yang dapat mempengaruhi kebiasaan makan seseorang. Contohnya adanya olahan pangan pizza dengan daging rendang, adanya makanan-makanan instan.
  10. Kesejahteraan
    • Kesejahteraan berkaitan erat dengan ekonomi seseorang, dimana apabila kesejahteraan seseorang meningkat akan menyebabkan pola makan seseorang jadi berbeda.
    • Contohnya dari makan makanan di pinggir jalan/gerobak menjadi makan makanan di restoran.
Kebiasaan-kebiasaan makan ini apabila diturunkan pada generasi-generasi penerusnya akan menyebabkan terciptanya suatu budaya pangan. Budaya pangan dan kebiasaan makan ini merupakan suatu hubungan timbal balik, hubungan yang saling berkaitan dan mempengaruhi.

Lepet, Makanan Tradisional Jawa

Lepet merupakan makanan tradisional Jawa yang terbuat dari beras ketan, parutan kelapa, dan garam. Menurut seorang budayawan Jepara, Bapak ...