Jumlah penduduk dunia pada tahun 2011 mencapai tujuh miliar jiwa. Pertambahan penduduk pada beberapa dekade mendatang kemungkinan akan mencapai 30 persen dari total penduduk pada tahun 2011. Peningkatan penduduk tentunya akan diikuti dengan peningkatan permintaan pangan. Pemenuhan pangan dunia harus meningkat dua kali lipat menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa pada tahun 2050. Sedangkan lahan pertanian dan peternakan yang tersedia memiliki jumlah yang terbatas, sehingga sumber pangan juga terbatas. Karena itu, diperlukannya solusi dan suatu inovasi dalam pemenuhan kebutuhan pangan di masa depan. Inovasi tidak hanya mengatasi peningkatan jumlah produksi, namun juga mengatasi masalah sisa makanan yang lebih efektif sehingga dapat dikonsumsi kembali. Hal ini dikarenakan terdapat 222 miliar ton pangan terbuang di negara maju, yaitu sekitar satu per tiga dari jumlah total pangan.
Beberapa solusi dan inovasi guna mengatasi kedua permasalahan tersebut adalah tiruan daging (hamburger) dengan limbah kotoran dan belatung, serta pembuatan tiruan telur ikan (kaviar) dengan gelling agent, ikan, dan cokelat.
- Daging hamburger dari limbah kotoran
- Penelitian di Jepang oleh Profesor Mitsuki Ikeda.
- Daging hamburger berasal dari senyawa hasil ekstrak bakteri pada limbah kotoran (sewage waste)
- Kadar protein daging hamburger ini 63% (lebih tinggi dibandingkan hamburger biasa), namun memiliki penampakan yang tidak menarik.
- Daging hamburger dari belatung
- Menggunakan serangga yang paling umum ditemukan, yaitu lalat rumah. Lalat betina dikembangbiakkan secara rutin sehingga akan diperoleh telur-telur yang akan berkembang menjadi belatung.
- Belatung yang telah dipisahkan dari substrat (tempat tumbuh) dan dibersihkan, telah siap digunakan sebagai pakan ternak atau sumber protein. Kadar proteinnya mencapai 56% dan kadar lemak 12-20%.
- Belatung untuk daging hamburger dicincang terlebih dahulu, kemudian ditambahkan roti, susu, telur, bawang, garam dan merica. Sehingga akan diperoleh konsistensi seperti daging cincang, kemudian adonan dibentuk dan dimasak.
- Kaviar dengan gelling agent
- Dibuat dari gelatin/rumput laut (gelling agent), perisa dan pewarna makanan, serta tambahan protein apabila perlu.
- Semua bahan dicampurkan pada suhu 50-60oC dengan tekanan 1-2 atmosfir. Kemudian disemprotkan pada minyak 10oC sehingga terbentuk butiran-butiran menyerupai kaviar.
- Kaviar dengan ekstrak ikan
- Dibuat dari ekstrak ikan dan rumput laut.
- Kaviar dibentuk dengan adanya larutan campuran yang masih berwujud cair di bagian dalam butiran-butiran kaviar. Sehingga ketika digigit (pecah) akan menyebabkan cairan tersebut keluar.
- Kaviar dengan cokelat
- Dibuat dari cokelat manis dengan sistem yang menyerupai sistem pembuatan kaviar buatan lainnya.
- Pembuatan kaviar ini juga bertujuan untuk menjaga populasi ikan sturgeon yang mulai mengalami penyusutan 90% selama dua dekade ini. Sehingga telur-telur ikan masih dapat disimpan dan digunakan untuk proses pembuahan nantinya saat terdapat sperma yang siap. Hal ini dikarenakan jenis ikan sturgeon secara natural mampu memproduksi telur setelah berusia 15 tahun.

